psikologi keheningan

manfaat unplugging dari teknologi bagi kesehatan mental

psikologi keheningan
I

Pernahkah kita menyadari momen kepanikan kecil saat masuk ke kamar mandi, lalu sadar ponsel tertinggal di luar? Atau mungkin, pernahkah teman-teman merasakan getaran samar di paha, buru-buru merogoh saku, hanya untuk mendapati layar ponsel gelap gulita?

Dalam dunia psikologi, fenomena kedua tadi dikenal dengan istilah phantom vibration syndrome. Halusinasi kecil ini adalah bukti betapa tubuh dan sistem saraf kita sudah sangat terkalibrasi dengan kebisingan digital. Kita seolah terus berjaga-jaga. Menunggu notifikasi, membalas pesan, mencerna video berdurasi lima belas detik yang silih berganti.

Tanpa sadar, kita telah mengeliminasi satu hal paling purba yang dulu selalu menemani umat manusia: keheningan. Tapi, mengapa membayangkan hidup tanpa internet selama sehari saja sudah membuat dada kita terasa sesak?

II

Mari kita mundur sejenak dan melihat sejarah. Di abad ke-17, jauh sebelum smartphone ditemukan, seorang filsuf sekaligus matematikawan bernama Blaise Pascal menuliskan sebuah observasi yang tajam. Ia berkata bahwa semua masalah manusia berakar dari satu hal: ketidakmampuan kita untuk duduk tenang sendirian di dalam sebuah ruangan.

Leluhur kita dulu memiliki kemewahan yang kini terasa asing. Saat mereka berjalan menyusuri hutan, atau duduk di depan api unggun setelah berburu, otak mereka beristirahat. Otak manusia berevolusi untuk memiliki ritme kerja yang seimbang antara kewaspadaan tinggi dan fase istirahat yang panjang.

Kini, siklus itu rusak. Kita mengalami apa yang disebut oleh para ahli saraf sebagai cognitive overload atau kelebihan beban kognitif. Otak kita terus-menerus dibombardir oleh rangsangan. Akibatnya, amigdala kita—bagian otak yang merespons ancaman—menjadi hiperaktif. Kita terus memproduksi hormon stres seperti kortisol. Kita kelelahan, tapi anehnya, kita justru tidak bisa berhenti mencari kebisingan baru.

III

Ini membawa kita pada sebuah pertanyaan yang lebih dalam. Jika kebisingan membuat kita stres, mengapa kita begitu takut pada keheningan? Kenapa kita buru-buru menyalakan podcast saat menyetir sendirian? Atau menyalakan televisi di latar belakang meski tidak ditonton?

Pada tahun 2014, sekelompok psikolog dari University of Virginia melakukan eksperimen yang hasilnya cukup mencengangkan. Para peserta diminta untuk duduk sendirian di sebuah ruangan kosong selama 15 menit, tanpa ponsel, tanpa buku. Hanya mereka dan pikiran mereka. Satu-satunya hal lain yang ada di ruangan itu adalah sebuah tombol yang jika ditekan akan memberikan kejutan listrik ringan ke tubuh mereka.

Tahukah teman-teman apa yang terjadi? Sebagian besar peserta secara sukarela memilih untuk menekan tombol setrum tersebut. Mereka lebih memilih menyakiti diri sendiri secara fisik daripada harus terjebak sendirian dalam keheningan bersama isi kepala mereka.

Keheningan ternyata terasa seperti sebuah ancaman. Ia memaksa kita berhadapan dengan kecemasan, rasa tidak aman, dan emosi-emosi yang selama ini kita redam dengan cara scrolling media sosial. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi jika kita berani melewati fase tidak nyaman itu dan membiarkan otak kita benar-benar unplugged?

IV

Di sinilah letak keajaiban sainsnya. Saat kita berani mencabut steker dari dunia luar dan membiarkan diri kita tenggelam dalam keheningan, otak kita sebenarnya tidak mati. Justru sebaliknya, sebuah jaringan rahasia mulai menyala.

Jaringan ini disebut Default Mode Network (DMN). DMN adalah area otak yang hanya aktif saat kita tidak sedang fokus pada tugas apa pun dari luar. Di dalam ruang DMN inilah letak pabrik imajinasi manusia. Di sini otak kita memproses memori masa lalu, membayangkan masa depan, memahami emosi orang lain (empati), dan menciptakan kepingan ide-ide kreatif. Tanpa keheningan, DMN tidak bisa bekerja maksimal.

Namun, penemuan yang paling membuat saya merinding datang dari ahli biologi regeneratif, Imke Kirste. Pada tahun 2013, ia meneliti efek berbagai jenis suara pada otak tikus. Ia menggunakan keheningan murni sebagai variabel kontrol. Hasilnya sama sekali tidak terduga.

Dua jam keheningan setiap hari ternyata memicu terjadinya neurogenesis, yaitu pertumbuhan sel-sel otak yang benar-benar baru di area hippocampus. Otak secara harfiah menumbuhkan jaringan baru saat berada dalam keheningan. Area hippocampus ini adalah pusat pembelajaran, memori, dan regulasi emosi. Ini berarti, keheningan bukanlah ruang kosong atau sekadar ketidakhadiran suara. Keheningan adalah arsitek yang sedang merenovasi otak kita.

V

Jadi, mari kita renungkan sejenak. Menyediakan waktu untuk unplugging dari teknologi ternyata jauh lebih dari sekadar "detoks" atau tren wellness kekinian. Ini adalah kebutuhan biologis yang mendasar demi kewarasan kita.

Kita tidak perlu menjual semua barang kita dan pindah ke biara di puncak gunung untuk mendapatkan manfaat ini. Kita bisa memulainya dari hal-hal kecil yang sangat sederhana. Cobalah untuk meminum kopi di pagi hari tanpa menyentuh layar ponsel. Biarkan diri kita menatap dinding atau melihat daun yang bergerak ditiup angin. Duduklah di taman selama sepuluh menit dan izinkan diri kita merasa bosan.

Pada awalnya, rasa bosan dan cemas itu pasti akan datang menggerogoti. Itu wajar, itu adalah gejala putus zat dari dopamin digital kita. Tapi bertahannya kita di fase itu adalah sebuah bentuk kasih sayang pada diri sendiri. Karena di balik dinding kebosanan yang tidak nyaman itu, otak kita sedang sibuk menyembuhkan dirinya, menumbuhkan sel-sel baru, dan mengembalikan kita menjadi manusia yang lebih utuh. Sesekali, mari kita beri diri kita izin untuk benar-benar menghilang.